“Silent Healing Program” August 2017

One of the most profound jewel can be found in the deepest cave of the ocean. For those who seek for it with on open-hearted mind, they will find the wisdom through the journey seeking for it.

Silent Healing Program is our newest healing program which combine the wisdom knowledge through noble silence, meditation, yoga and breathing practice. This program is held in 2 night & 3 days in a beautiful meditation center in Bona village, Gianyar. Limited space, this practice will only be open exclusively for 6 participants. Price for this retreat including room, food and beverage, and learning material including teaching of Dhamma, understanding and practice of the noble silence, walking meditation, sitting meditation, within the meditation practice we will also learn chanting. Yoga asana practice, and breathing practice.

silent-retreat-agt-ENG

Healing Breath Open Class August 2017

DAY/ DATE             : SATURDAY, 26 AUGUST 2017

TIME                       : 13.00 – 16.00

INVESTMENT        : IDR 250.000

SPACE                    : LIMITED TO 10 PARTICIPANTS

TEACHER              : VIA WIJAYA

Healing Breath programs is a collective programs to share and learn about breathing technique with a specific approach. The technique on Healing Breath eventually targeting to create tremor on the physical body in order for the body to create reaction in the mental and emotional expression state in the natural way. Why do we need to allow the body to express this mental state? Because in every single part of our physical body that was hurt or storing pain from the previous trauma, that part of the body will create “residue” or the waste energy in different form. When this waste is not being cleaned, it will stay in the body. This waste can be stored in the body in the form of water, gas, mucus, tears, etc. Thus waste if stored in a long term might cause damage to the inner organs.

Heal-Agt-BHS

Diary: Facilitator Training Day#1

Dear U,

Another class-practice has passed and each time feeling gets deeper, pain gets more and more tangible. This pain that has long I carried, but never realize having it. This pain that has caused my chest feels heavy every time I try to breath deep.

The greatest fear has finally appeared. This fear that has haunted me all this time. Loneliness, fear of being dumped and unaccepted, fear of being rejected, fear of not being loved, fear of being hated (by everything). Everything I have called through my own ability, power and intentions.

Fear of seeing what my thoughts come true in this fabricated physical reality. All thoughts, including the good and the bad. Including all of my insecurity, including all of my shame.

Feeling of missing someone, or something. Those who love me but I pushed them away. I have refused them. Guilt was strong.

I was angry. Angry for what I have done, everything. Angry for being that person I was at that one moment of my life. I tried not to get angry, but I failed. I was still angry to that person I become at that case, in that moment. I wish I was stronger. I tried.

Sadness was monstrous. Throwing rocks at my chest. Creating ghost in my head, to make me run from it’s reality.

Sadness of me not having the ability to be in love.

I want to learn that. Please teach me.

 

A Letter to the Universe | Via Wijaya

Chat with me: skype: wijayav | instagram: @viawijaya.yoga | whatsapp: +628176881511 | via.wijaya@gmail.com | facebook: https://www.facebook.com/viawijaya.yoga

Pasrah

Kepasrahan adalah satu-satunya kunci untuk dapat melewati seluruh proses hidup yang menyakitkan. Pengetahuan ini menjadi kunci dasar berlatih bagi kedua belah pihak, baik peserta maupun fasilitator. Satu-satunya untuk dapat pasrah adalah dengan mengenali dan memahami rasa sakit itu sendiri (baik dalam fenomena fisik maupun mental), bukan menghindarinya. Memahami rasa sakit tersebut dengan tujuan agar kita tidak mengalami rasa sakit itu kembali dikemudian hari atau di pengalaman yang lain.

Kesulitan untuk dapat merasa pasrah, dikarenakan masing-masing dari kita memiliki pengetahuan mengenai ego yang lebih kuat dibandingkan dengan pengetahuan mengenai alam bawah sadar (yang menjadi dasar insting alami manusia untuk menjalani hidupnya sebagai makhluk tertinggi dibandingkan dengan makhluk lain).

Kebanyakan dari kita masih memiliki kesulitan untuk menerima kenyataan hidup yang harus kita terima dikarenakan oleh “kesalahan dari kita sendiri”.

Pertanyaan selanjutnya mengapa kita berbuat salah? Apa sebenarnya kesalahan itu? Siapa yang menentukan hal tersebut salah (atau benar)? Kapan kita berbuat salah? Dimana kita berbuat salah? Ketika kita merasa bersalah (guilty), perasaan tersebut adalah ekspresi yang terpancar dalam kehiduan nyata fisik kita (realitas). Ketika tidak ada rasa bersalah dalam diri seseorang, artinya orang tersebut telah memiliki pemahaman mengenai apa yang diperbuatnya (being aware of what he does). Ia melakukan hal tersebut atas dasar dan tujuan untuk kebaikan dirinya dan kebaikan makhluk lain. Dengan demikian kegiatan yang dilaksanakannya dilaksanakan dengan penuh kesadaran, dengan demikian ia akan dapat mengetahui mana perbuatan yang dilakukan atas dasar ego, atau atas dasar sadar (yang sesuai dengan apa yang kita perlukan).

Kesulitan lain antara lain, kebanyakan dari kita tidak bertanggung jawab atas rasa bersalah tersebut, dengan tidak ingin merasa bersalah (dengan kata lain ingin menang sendiri).

Ketika seseorang telah dapat menyadari, mengakui dan mengekpresikan rasa bersalah tersebut, maka barulah perasaan lain akan dapat tereksresikan. Perasaan yang muncul kemudian antara lain marah (angry), sedih (sad), takut (fear/ insecurity), kesendirian (loneliness), dan sebagainya terkait dengan pengalaman apa yang pernah dialami olehnya semasa hidupnya. Perasaan negatif yang telah terekspresikan akan memberikan ruang bagi perasaan positif untuk dapat tumbuh dalam diri seseorang. Dengan begini seseorang tersebut telah mulai berlatih untuk dapat memahami arti kasih sayang (berbuat baik) kepada makhluk lainnya.

Sebenarnya telah diajarkan di berbagai kitab suci bahwa tidak ada manusia yang derajatnya lebih tinggi dari manusia lain (dimata semua makhluk sumber kehidupan). Mereka memiliki kekuatan dan kesempatan hidup yang sama. Apa yang diperbuatnya akan menjadi balasan yang didapatkannya semasa hidupnya, umat Hindu dan Buddha menyebutnya sebagai karma, umat Muslim dan Kristiani menyebutnya sebagai pahala. Semakin banyak kebaikan yang dilakukannya, maka semakin banyak pula kebaikan yang didapatkannya. Begitu sepengetahuan saya.

 

Chat with me: skype:wijayav | wechat: viayogabali | whatsapp: +628176881511 | via.wijaya@gmail.com