Pasrah

Kepasrahan adalah satu-satunya kunci untuk dapat melewati seluruh proses hidup yang menyakitkan. Pengetahuan ini menjadi kunci dasar berlatih bagi kedua belah pihak, baik peserta maupun fasilitator. Satu-satunya untuk dapat pasrah adalah dengan mengenali dan memahami rasa sakit itu sendiri (baik dalam fenomena fisik maupun mental), bukan menghindarinya. Memahami rasa sakit tersebut dengan tujuan agar kita tidak mengalami rasa sakit itu kembali dikemudian hari atau di pengalaman yang lain.

Kesulitan untuk dapat merasa pasrah, dikarenakan masing-masing dari kita memiliki pengetahuan mengenai ego yang lebih kuat dibandingkan dengan pengetahuan mengenai alam bawah sadar (yang menjadi dasar insting alami manusia untuk menjalani hidupnya sebagai makhluk tertinggi dibandingkan dengan makhluk lain).

Kebanyakan dari kita masih memiliki kesulitan untuk menerima kenyataan hidup yang harus kita terima dikarenakan oleh “kesalahan dari kita sendiri”.

Pertanyaan selanjutnya mengapa kita berbuat salah? Apa sebenarnya kesalahan itu? Siapa yang menentukan hal tersebut salah (atau benar)? Kapan kita berbuat salah? Dimana kita berbuat salah? Ketika kita merasa bersalah (guilty), perasaan tersebut adalah ekspresi yang terpancar dalam kehiduan nyata fisik kita (realitas). Ketika tidak ada rasa bersalah dalam diri seseorang, artinya orang tersebut telah memiliki pemahaman mengenai apa yang diperbuatnya (being aware of what he does). Ia melakukan hal tersebut atas dasar dan tujuan untuk kebaikan dirinya dan kebaikan makhluk lain. Dengan demikian kegiatan yang dilaksanakannya dilaksanakan dengan penuh kesadaran, dengan demikian ia akan dapat mengetahui mana perbuatan yang dilakukan atas dasar ego, atau atas dasar sadar (yang sesuai dengan apa yang kita perlukan).

Kesulitan lain antara lain, kebanyakan dari kita tidak bertanggung jawab atas rasa bersalah tersebut, dengan tidak ingin merasa bersalah (dengan kata lain ingin menang sendiri).

Ketika seseorang telah dapat menyadari, mengakui dan mengekpresikan rasa bersalah tersebut, maka barulah perasaan lain akan dapat tereksresikan. Perasaan yang muncul kemudian antara lain marah (angry), sedih (sad), takut (fear/ insecurity), kesendirian (loneliness), dan sebagainya terkait dengan pengalaman apa yang pernah dialami olehnya semasa hidupnya. Perasaan negatif yang telah terekspresikan akan memberikan ruang bagi perasaan positif untuk dapat tumbuh dalam diri seseorang. Dengan begini seseorang tersebut telah mulai berlatih untuk dapat memahami arti kasih sayang (berbuat baik) kepada makhluk lainnya.

Sebenarnya telah diajarkan di berbagai kitab suci bahwa tidak ada manusia yang derajatnya lebih tinggi dari manusia lain (dimata semua makhluk sumber kehidupan). Mereka memiliki kekuatan dan kesempatan hidup yang sama. Apa yang diperbuatnya akan menjadi balasan yang didapatkannya semasa hidupnya, umat Hindu dan Buddha menyebutnya sebagai karma, umat Muslim dan Kristiani menyebutnya sebagai pahala. Semakin banyak kebaikan yang dilakukannya, maka semakin banyak pula kebaikan yang didapatkannya. Begitu sepengetahuan saya.

 

Chat with me: skype:wijayav | wechat: viayogabali | whatsapp: +628176881511 | via.wijaya@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s