Hubungan Napas dan Emosi

Ketika napas dimiliki, ketenangan tak bisa dicuri.

Napas kita sangat erat hubungannya dengan keadaan emosi dan perasaan. Coba bayangkan ketika kita sedang senang, napas akan terasa lebih lega. Namun, ketika kita sedang takut, napas akan terasa tersendat-sendat bahkan terhenti sejenak. Begitu juga ketika kita sedang sedih dan menangis, napas tidak bisa berlangsung secara lancar dan sering kali rasanya sangat sulit untuk bernapas.

Emosi sangat erat hubungannya dengan napas. Ketika kita ingin menahan emosi yang bergejolak, sering kali kita (secara langsung) menahan napas. Ketika kita tersentak atau terkejut, sering kali (secara otomatis) kita pun menahan napas. Namun ketika sedang santai dan tidak tertekan, maka napas pun akan terasa lebih melegakan. Begitulah hubungan emosi dan napas. Mengapa begitu dekat hubungan emosi dan napas?

Apabila dirunut dari proses terbentuknya tubuh, maka bagian bertama yang terbentuk dalam tubuh adalah salah satu sel yang menjadi cikal bakal sel otak kita yang berada dalam grup yang disebut Limbic System dalam otak. Limbic system ini antara lain adalah hubungan antara hypothalamus, thalamus, amygdala dan pituitary gland yang menjadi bagian paling dalam pada struktur otak kita. Limbic system adalah bagian otak yang berfungsi dan hubungan kerjanya dengan seluruh ingatan (memory) yang pernah terjadi dalam tubuh selama kehidupan sel dimulai.

Ketika bagian-bagian tubuh belum terbentuk secara sempurna, limbic system telah merekam proses pembelajaran awal yang mana keseluruhan materi ingatan ini direkam dalam bentuk “rasa”. Untuk itulah bentuk komunikasi perasaan sudah mulai tercipta walaupun dalam bentuk sel yang sangat sederhana.

Begitu juga ketika kita sudah mulai mampu menggunakan sistem pernapasan. Pada hari pertama kelahiran kita, hal pertama yang kita mulai pelajari adalah belajar bernapas. Seperti hal terbentuknya sel, pernapasan kita terbentuk disaat kita dilahirkan. Maka pada saat ini, ada dua sumber informasi dan pengetahuan yang kita meiliki sebagai seorang bayi manusia: (1) Perasaan dan (2) Napas. Karena kita belum mampu menggunakan mulut untuk berbicara dan belum mampu mengoperasikan berbagai bagian tubuh, maka hanya bentuk napas dan bahasa perasaan yang kita gunakan pada saat ini (hidup sebagai seorang bayi manusia).

Karena dua bahasa ini sudah kita gunakan sejak dini, maka keduanya memiliki hubungan yang sangat erat dalam hal mengekspresikan diri dalam realita fisik tubuh kita. Itulah sebabnya napas sangat erat hubungannya dengan napas.

Konsultasi chat (Whatsapp) +628176881511

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s