Understanding Trauma (Part 2)

In the first stage of the golden age (0 – 7 years old) a human child learn about the expansion if the physical and material expression. In this reality a human child must have fulfilled the feeling and emotion of satisfaction and security in order to be able to continue his journey to the next level of expansion.

The next level of growth happens during the two stages during age 7 – 14 years old and continue from 14 – 21 years old. In this year of life a human child learn the expansion of their mental expression. The mental expression needs a longer time to be developed as it needs a lot of things to adapt and re-arranges for an understanding can be met, and therefore wisdom can be fulfilled.

During these two stages of golden age, a child learn about the expression of love and kindness, also the expression of rejection and dislike. Furthermore, a child learn about their self-value which indicate by the way they treat others. The way they respect others, indicate how much they respect themselves. Even though, in this stage a child is still learning of “what respect means”, but they already have instinct from what they have learned in the previous stage.

This chain of growth cannot be separated.

Mostly, adults who has trauma disorder or stress disorder is caused by some phenomena that was happening during these golden ages.

Chat and Consultation (Whatsapp) +628176881511

Hubungan Napas dan Emosi

Ketika napas dimiliki, ketenangan tak bisa dicuri.

Napas kita sangat erat hubungannya dengan keadaan emosi dan perasaan. Coba bayangkan ketika kita sedang senang, napas akan terasa lebih lega. Namun, ketika kita sedang takut, napas akan terasa tersendat-sendat bahkan terhenti sejenak. Begitu juga ketika kita sedang sedih dan menangis, napas tidak bisa berlangsung secara lancar dan sering kali rasanya sangat sulit untuk bernapas.

Emosi sangat erat hubungannya dengan napas. Ketika kita ingin menahan emosi yang bergejolak, sering kali kita (secara langsung) menahan napas. Ketika kita tersentak atau terkejut, sering kali (secara otomatis) kita pun menahan napas. Namun ketika sedang santai dan tidak tertekan, maka napas pun akan terasa lebih melegakan. Begitulah hubungan emosi dan napas. Mengapa begitu dekat hubungan emosi dan napas?

Apabila dirunut dari proses terbentuknya tubuh, maka bagian bertama yang terbentuk dalam tubuh adalah salah satu sel yang menjadi cikal bakal sel otak kita yang berada dalam grup yang disebut Limbic System dalam otak. Limbic system ini antara lain adalah hubungan antara hypothalamus, thalamus, amygdala dan pituitary gland yang menjadi bagian paling dalam pada struktur otak kita. Limbic system adalah bagian otak yang berfungsi dan hubungan kerjanya dengan seluruh ingatan (memory) yang pernah terjadi dalam tubuh selama kehidupan sel dimulai.

Ketika bagian-bagian tubuh belum terbentuk secara sempurna, limbic system telah merekam proses pembelajaran awal yang mana keseluruhan materi ingatan ini direkam dalam bentuk “rasa”. Untuk itulah bentuk komunikasi perasaan sudah mulai tercipta walaupun dalam bentuk sel yang sangat sederhana.

Begitu juga ketika kita sudah mulai mampu menggunakan sistem pernapasan. Pada hari pertama kelahiran kita, hal pertama yang kita mulai pelajari adalah belajar bernapas. Seperti hal terbentuknya sel, pernapasan kita terbentuk disaat kita dilahirkan. Maka pada saat ini, ada dua sumber informasi dan pengetahuan yang kita meiliki sebagai seorang bayi manusia: (1) Perasaan dan (2) Napas. Karena kita belum mampu menggunakan mulut untuk berbicara dan belum mampu mengoperasikan berbagai bagian tubuh, maka hanya bentuk napas dan bahasa perasaan yang kita gunakan pada saat ini (hidup sebagai seorang bayi manusia).

Karena dua bahasa ini sudah kita gunakan sejak dini, maka keduanya memiliki hubungan yang sangat erat dalam hal mengekspresikan diri dalam realita fisik tubuh kita. Itulah sebabnya napas sangat erat hubungannya dengan napas.

Konsultasi chat (Whatsapp) +628176881511

Pola Napas

Apakah yang dimaksud dengan “Pola Napas”? Pola Napas (Breathing Pattern) adalah sebuah ritme yang diciptakan oleh sistem saraf tubuh dan otak untuk mengatur pernapasan tubuh secara normal dalam kehidupan sehari-hari.

Ritme pernapasan ini berubah sesuai dengan keadaan dan fenomena yang sedang dihadapi. Ketika tubuh berada dalam keadaan santai, maka pola napas yang terjadi adalah pelan dan halus. Namun ketika tubuh sedang mengalami guncangan sedang, misalnya dalam keadaan terburu-buru, maka pola napas yang terjadi adalah napas yang cepat dan pendek. Dan ketika tubuh berada dalam guncangan hebat, misalnya gertakan atau keadaan yang mencengangkan, maka pola napas yang terjadi adalah napas terhenti. Pola napas seperti ini sangatlah normal terjadi pada tubuh dan kebanyakan dari kita memiliki pola napas yang hampir sama satu dengan lainnya.

Perbedaan pola napas juga terjadi disebabkan oleh gaya hidup. Misalnya, apabila gaya hidup kita selalu sibuk, maka pola napas yang kita miliki biasanya akan menjadi cepat dan pendek. Namun apabila gaya hidup kita santai dan tidak terlalu terburu-buru, maka pola napas kita biasanya lebih halus dan mudah dirasakan. Lokasi tempat tinggal juga mempengaruhi pola napas, misalnya apabila kita tinggal di perkotaan yang penuh debu, maka pola napas kita menjadi pendek dan mudah terhenti. Namun bisa kita tinggal di desa yang penuh dengan pepohonan maka pola napas kita menjadi lebih panjang dan pelan.

Pertanyaan selanjutnya adalah: apakah kita sudah dapat merasakan pola napas yang kita miliki di kehidupan sehari-hari?

Konsultasi chat (whatsapp) +628176881511

Penting Tau! Pola Napas.

Kebanyakan dari kita belum menyadari satu hal utama yang paling penting dalam hidup yaitu: NAPAS.

Apabila kita tidak memiliki napas, maka kita tidak bisa hidup. Bisa saja kita tidak makan dan tidak minum dalam satu hari. Namun, apabila kita tidak bernapas dalam 10 menit saja, maka detak jantung akan menjadi tidak stabil, dan akhirnya berhenti bekerja.

Apakah Kita sudah menyadari pentingnya PERNAPASAN? Belum saja kita pelajari teknik-teknik pernapasan yang bisa kita latih untuk menjaga kebugaran tubuh. Namun, untuk memulai pelatihan tersebut tentu harus kita sadari manfaat dan pentingnya napas itu sendiri.

Dalam hidup ini kita sering sekali lebih dipusingkan oleh repotnya kegiatan dan tugas sehari-hari. Belum lagi tugas kantor yang menumpuk, ditambah kewajiban di rumah, ditambah kewajiban kepada anak, suami, istri dan keluarga. Pikiran kita sudah penuh dengan hal-hal yang kita “anggap” esensial. Namun satu hal penting yang harus tetap dijaga: NAPAS, tidak pernah kita pikirkan. Mengapa begitu? Mengapa kita pernah memikirkan napas? Kalau memang napas itu penting, seharusnya secara “otomatis” kita memikirkannya. Namun tidak. Mengapa?

Hal tersebut disebabkan karena, sistem pernapasan manusia adalah satu-satunya sistem dalam tubuh yang dapat tetap berfungsi secara “normal” dalam keadaan sadar maupun tidak sadar. Dalam keadaan sadar maksudnya ketika kita menyadari proses terjadinya pernapasan tersebut, artinya kita menyadari keluar dan masuknya napas. Sedangkan proses tidak sadar, ketika kita memikirkan pekerjaan rumah dan pekerjaan kantor, napas pun tetap berjalan dengan “normal” sehingga tidak perlu kita mengatur napas setiap saat.

Jika pernapasan terjadi secara tidak sadar, maka napas akan membuat sebuah “pola napas” yang akan terjadi secara otomatis. Pola napas ini berubah sesuai dengan keadaan yang sedang dihadapi. Misalnya, napas akan tiba-tiba terhenti ketika kita sedang bepikir keras, kemudian akan kembali secara semula ketika kita sedang santai. Hal-hal seperti ini terjadi dalam tubuh secara otomatis, sehingga kebanyakan dari kita kurang menyadarinya.

Karena dalam hidup kita lebih sering memberikan prioritas pada pekerjaan maupun hal-hal lain seperti keadaan uang, maupun keadaan benda dan perabot rumah, maka napas kita tidak menjadi prioritas dalam hidup sehari-hari.

Konsultasi chat (Whatsapp) +628176881511